Sunday, 21 July 2013

Ajakan Party Berbuah Threesome (Part 4) - Another Vani's Sex Adventure

Sambil menguyah sandwichnya, Revo melirik ke Vani dan berkata "Sorry ya Van, sampe lo ikut nginep segala". "Gue ga nyangka Shasha liar banget di ranjang. Jadi ketagihan deh gue" tambah Revo. "He-eh" senyum sal-ting Vani mengembang, "Ga papa ko Rev. Itung-itung bikin hepy temen" tambah Vani bingung mencari alasan. "Tapi, gue rasa lo juga punya kesibukan sendiri sama Ian & Boris" kerling Revo nakal. Piass! Vani merasa wajahnya bersemu merah. "Huuhh.. Abisss lo bedua lama banget sih" rajuk Vani sambil mencubit lengan Revo menutupi malunya. Revo terkekeh lalu menggeser kursinya agar bisa duduk di sebelah Vani.

"Gimana rasanya eMeL sama 2 cowo langsung?" bisik Revo di dekat telinga Vani. Vani jadi tambah salah tingkah mendengar pertanyaan Revo. "Eh.. oh.. gimana ya" jawab Vani bingung. Revo bertanya lagi "Kalo si Ian masukin penisnya ke vagina elo, punya si Boris masuk kemana dong?". Pertanyaan Revo memicu ingatan Vani atas hubungan seks yang terjadi semalam. Tubuh Vani juga ikut mengingat bagaimana memeknya disesaki oleh kontol Ian. Dan bagaimana penetrasi kontol Boris di lubang pantatnya mendatangkan sensasi birahi yang berbeda dan menenggelamkan Vani dalam gelombang birahi yang luar biasa. "Shit... Gue jadi horny lagi" runtuk Vani dalam hati.

"BTW, gue denger teriakan Ian muji toket lo semalem" tambah Revo semakin menempel ke tubuh Vani. "Oh ya?" sahut Vani tidak tau mau jawab apa. "Boleh ga gue liat bentarrr aja toket lo?" pinta Revo yang mematanya memandang gundukan dada Vani yang tertutup jubah mandi. Tidak menunggu jawaban Vani, tangan kanan Revo sudah bergerak untuk menyingkap jubah mandi Vani di bagian dadanya. "Eh, mau ngapain lo?" tanya Vani kaget sambil menahan gerakan tangan Revo. "Ayolah Van, ga ada ruginya lo kasi liat gue toket lo yang katanya indah banget itu" Revo sedikit memaksa agar jemarinya bisa tepian jubah mandi Vani. "Iiihh.. lo nafsu banget sih pengen liat" rengek Vani tapi tidak menahan lagi gerakan jari Revo untuk menyingkap jubah mandi yang menutup toketnya. Vani penasaran juga pengen tau tanggapan Revo tentang toketnya.

Agak bergetar jari Revo menyingkap jubah mandi Vani. Dari luar Revo sudah bisa menebak bahwa dada Vani lebih besar dari Shasha. Makanya dia betul-betul ngebet pengen ngelihat. Ga nyangka Vani tidak menolak lama-lama request Revo ini. Revo hanya bisa menyingkap sebagian jubah mandi, tapi itu sudah cukup untuk menunjukkan gunungan daging putih toket Vani. "Indah sekali Van..." suara Revo agak bergetar demi melihat pemandangan yang betul-betul menggugah birahi itu. Tanpa sadar jari telunjuknya bergerak menyentuh bagian toket Vani yang tampak dan menyusurinya ke belahannya. Vani sedikit kaget dan menggelinjang sambil menepis tangan Revo "Aihhh... jahil lo ah. Katanya mo liat doang" kata Vani sambil memajukan bibirnya berlagak cemberut. "Sorry.. sorry Van. Bener-bener itu reflek. Habis indah banget" melas Revo tapi lengannya tetap menempel tubuh samping Vani.

"Udah puas kan ngeliatnya?" tanya Vani sambil berusaha menutup lagi bagian dadanya. "Eh? Tadi sih belum bisa dibilang ngelihat Van. Baru juga atasnya" protes Revo. "Ayolah Van, buka lebih lebar lagi. Biar penasaran gue atas apa yang dilihat dan dinikmati Ian dan Boris tadi malam terpuaskan" mohon Revo lebih lanjut. Vani sebenarnya ingin sekali menunjukkan toketnya dan melihat muka nafsu Revo ketika melihat toketnya. Tapi, biasalah, si Vani ga pengen dipandang gampangan. Revo yang menyadari bahwa tangan Vani yang menahannya tidak benar-benar kuat menolaknya, jadi tambah semangat. Kali ini Revo tidak sekedar membuka sedikit jubah mandi Vani, tapi langsung menyingkapnya lebar-lebar. Bongkahan toket Vani yang sebelah kiri langsung muncul seolah meloncat dan sedikit bergoyang karena tersenggol tangan Revo ketika menyingkap kain penutupnya. "Heiiii... " jerit Vani kaget. Vani reflek berusaha menutup lagi jubah mandinya. Tapi, ternyata Revo lebih cepat lagi untuk merangkulnya dan menahan tangan kiri Vani dengan tangan kirinya. Tangan kanan Vani pun tertahan himpitan tubuh Revo di sisi tubuh Vani.

"Aa..aaa.. Revooo.. Lo nakal amat sih" rengek Vani agak jengah karena mata Revo membeliak lebar memandangi sebelah gunungan toket putihnya dengan puting pink kecoklatan yang mengacung tegak. "Gila.. ga nyangka gede banget toket lo Van. Bulat dan ranum banget" puji Revo sambil memelototi toket Vani yang hanya berjarak kurang dr 30cm dari mukanya. "He-eh..." senyum bangga sekaligus malu Vani merekah. Tanpa sadar, tangan kanan Revo bergerak menyentuh dan membelai kulit toket Vani yang mulus. "Aihhh... katanya cuma liat doang??!!" jerit Vani tersentak kaget karena tidak menduga sentuhan kulit hangat tangan Revo membelai toketnya. "Sorry Van.. gue cuma belai bentarr aja..." jawab Revo agak tersengal karena nafsu birahinya mulai menguasai. Revo semakin kuat memeluk Vani dan tangan kanannya kini tidak saja membelai toket Vani, tapi juga meremas-remasnya dan bahkan memilin-milin puting Vani yang sensitif. Tanpa bisa ditahan, bibir sensual Vani mengeluarkan rintihan dan desahan kenikmatan. "Shhhhh.. mppphhhh.. nakal amat sih lo Rev...." desah Vani lirih. "Kalo udah megang, udahan ya" pinta Vani sambil menggigit bibir bawahnya.

Mendapat lampu hijau, Revo melepaskan pelukan dan pegangan tangan kirinya. Dan menyingkap jubah mandi Vani lebar-lebar kedua sisi, sehingga kedua bongkah susunya muncul kepermukaan. Jubah mandi itu kini hanya disatukan oleh ikatan di perut Vani sehingga menutup bagian perut kebawah. Dengan pasrah Vani bersadar di kursi dapur dan Revo dengan buasnya menggarap toket montok Vani. Kedua tangan Revo dengan kasarnya meremas-remas, menguyel-nguyel bongkahan daging kenyal itu. Mulut Revo dengan rakusnya menyaplok puting dan 1/4 bongkahan daging toket Vani. Seperti bayi Revo mengemut dan menyedot-nyedot kuat-kuat satu puting Vani dan memilin-milin satunya. Bergiliran. Vani tidak bisa lagi menahan erangan kenikmatannya. Vani sangat menyukai rangsangan kasar pada kedua toketnya. Terutama putingnya.

"Ngahhhh.... mmmpphhhffffff... shhhhhh.." desah Vani tidak beraturan. "Ah.. ah.. jangan gigit keras-keras Voo... ngahhh.." rintih Vani yang mulai menikmati permainan Revo. Karena desakan tubuh Revo yang sekarang di depannya dan permainan kasarnya, Vani berusaha memperbaiki posisi duduknya dengan menyeimbangkan kakinya. Yang tidak disadari Vani adalah kini dia duduk mengangkang sehingga menyingkap jubah mandinya. Revo nyaris tersedak bahagia ketika melihat penutup bawah Vani tersingkap dan menyadari bahwa Vani tidak memakai underwear sehingga belahan memek tembem Vani terlihat jelas.

Vani membuka matanya kaget dan memekik kecil ketika merasakan ada benda asing yang menerobos masuk liang kawinnya. "Aiiihhh.... mau ngapain lo Revvv...". Vani hanya bisa meremas bahu Revo ketika Revo tetap memaksa untuk mengocok memek Vani dengan jari tengahnya. "Ahh.. ahh... bu.. bukan gini khan perjanjiannyaa...ahhh.." kata Vani terbata-bata karena bingung dan tengsin. "Ayolah Van, ga usah muna lagi. Lo enjoy kan gue kerjai toket dan memek lo" tukas Revo penuh nafsu sambil tetap mengocok memek Vani yang sudah basah. Vani tidak bisa berkata-kata lagi karena memang benar memeknya sudah gatal minta digaruk dan digesek. Menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang lebih keras lagi muncul, mata Vani nanar menatap Revo dibawahnya yang asyik mengocok memeknya. Nalarnya mulai susah diajak kerja sama.

Tiba-tiba Revo menghentikan kocokannya dan berdiri. Vani yang hampir sampai di orgasme pertamanya pagi ini, jadi agak gelagapan "Eh.. oh.. kok berhenti?" tanya Vani, yang jelas disesalinya begitu kata-kata itu keluar. "I wanna fuck you hard Van" kata Revo dengan nafas memburu. "Ayo bungkuk, tunggingin pantat lo" perintah Revo sambil menarik tangan Vani agar berdiri. Vani menurut dan menelekkan kedua tangannya di cabinet dapur dan membungkukkan badannya. Siap untuk penetrasi dari belakang. Di belakangnya, Revo dengan cepat melepaskan boxernya dan siap-siap untuk mengarahkan kontolnya yang sudah menegang penuh ke memek Vani. Ketika Revo menyingkap ke atas jubah mandi Vani, dan memperlihatkan bongkahan pantat Vani yang sintal, Revo bersiul.." Suiitt.. mantap banget body lo Van" kata Revo sambil meremas gemas pantat Vani.

Tiba-tiba satu kesadaran menyentak otak Vani. "Eh, kita ga bisa lakuin ini Rev" kata Vani sambil berusaha berdiri dan berbalik tapi terhenti karena Revo mendekapnya dari belakang. "Tentu saja bisa Van" bisik Revo sambil menciumi leher Vani dan meremas-remas kedua belah toketnya. Akibat berat badan Revo, Vani terpaksa bertelekan lagi ke cabinet dengan kedua tangannya. "Lo pacar Shasha Rev" kata Vani mencoba meyakinkan Revo yang masih meremas-remas toketnya dari belakang, dari sekarang mulai menekan-nekankan pinggulnya ke pantat Vani. "Hubungan gue sama Shasha bisa rusak gara-garr.. Ouhhhhh.." kalimat Vani terputus karena kaget ada benda besar yang menerobos masuk tubuhnya. Setengah kontol Revo berhasil menerobos masuk jepitan bibir memek Vani yang basah merekah. Revo mulai memaju-mundurkan pinggulnya, mengocokkan kontolnya yang tegang keras di dalam liang kawin Vani. "NGahhhh..ahh.. Rev.. brenti.. brenti dulu....aaahh.. kita ga bisa.. oohh.. Shasha.. hmmmppff.." kata-kata Vani berantakan oleh dengusan nafasnya yang diburu oleh nafsu birahi.

Revo membenamkan dalam-dalam kontolnya, kemudian menghentikan goyangannya. Lalu berbisik di telinga Vani "Kalo lo mau Shasha ga tau, lo biarin gue ngentotin memek lo sekarang. Biar shasha ga keburu bangun". "Tapi.. tapi.. " Vani masih mencoba beralasan agar Revo membatalkana niatnya. Tapi, cowok mana sih yang bakal membatalkan acara ngentotnya kalau kontol sudah di dalam memek. Apalagi jelas-jelas memeknya sudah basah kuyup tanda birahi yang minta dipuaskan. Tidak memperdulikan keberatan palsu Vani, Revo kembali menggempur memek Vani dari belakang. "Damn.. damn.. hohh... memek lo basah banget tapi peret...kontol gue kaya diremes-remes.. " maki Revo penuh nafsu sambil menghentak-hentakan pinggulnya sampai membentur pantat Vani berulang-ulang.

Vani yang tidak kuat lagi menahan gempuran birahi akhirnya menyerah pada kenikmatan kontol Revo. "Haahhh... hhaaahhh... auuhhhhhh... mhhhhhhhhh..." erang erotis Vani terdengar di penjuru dapur. Tak lama kemudian, rasa gatal di sekujur memeknya tidak tertahankan lagi dan meledak menjadi orgasme pertamanya pagi ini. "HOUUUHHHHH.... hooohhh... hahhhhh... hahhhh.." lenguh Vani yang badannya mengejang menahan gejolak orgasme yang memabukkan. "hah. hah... huuhhh.." Vani mencoba menata nafasnya memburu sementara Revo masih mengocok kontolnya dari belakang. "Rev.. rev.. stop.. stop.. kaki gue lemes" pinta Vani masih tersengal-sengal.

Revo menarik lepas jubah mandi Vani dan menggelarnya di lantai dapur. Vani langsung tidur terlentang. Revo mengangkat pantat Vani, menahannya dengan pahanya, lalu membenamkan kontolnya ke memek Vani. Vani sampai mendongak ketika memeknya dihujam dalam-dalam oleh kontol Revo. "HOoohhhhh..." lenguh Vani. Dengan ahlinya Revo menghujam-hujam memek Vani, diselingi oleh putaran-putaran pinggulnya membuat Vani jadi belingsatan lagi. Keenakan. "Hiyaa.. hiyaa.. begitu.. bener begitu.. teruskann Revvv.... NGahhhh..." bibir sensual Vani menelorkan kata-kata menyemangati kentotan Revo.

Revo sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dia merasa bendungannya sebentar lagi jebol. Apalagi Vani dengan erotisnya meremas-remas toket bulatnya sendiri. "Ghuuee... mau keluar ya Vann.." dengus Revo terputus-putus. "Dikit lagi.. Rev... dikit lagi.. ahhh.... kocok cepatan.. kocok cepetan.. nggaahh.." rengek Vani. Tapi Revo sudah dititik puncaknya. Akhirnya "HAHHHHHHH.... Huuuuhhhh... makan peju gueee..." lenguh Revo sambil membenamkan dalam-dalam kontolnya. Vani merasakan semprotan hangat dalam memeknya, jadi makin binal. Rasa gatal di seluruh dinding memeknya sudah semakin memuncak. Hanya perlu sedikit gesekan lagi untuk memuaskannya. Jadi Vani yang mengambil alih menggoyangkan pinggulnya agar kontol Revo yang masih cukup besar di dalam memeknya menggesek-gesek. Beberapa detik kemudian lenguhan orgasme Vani yang terdengar. "AHHHHHHH..... uuugggghhhhh... Vani kheluarrr..." erang Vani kelonjotan selama beberapa waktu.

Revo tertelungkup selama beberapa waktu di atas tubuh sintal Vani. Kedua mata mereka terpejam menikmati momen menggairahkan yang baru saja lewat. Semenit berlalu, ketika Revo akhirnya bangkit dan melumat bibir Vani. "Gila.. lo memang binal. Gue betul-betul puas. Lain kali kita harus ngentot lagi ya Van" kata Revo. "Lo boleh saja berharap" kata Vani pendek sambil tersenyum. "Sekarang, antar gue dan Shasha pulang sebelum kedua gorilla itu bangun ya" tambah Vani sambil mendorong Revo agar bangkit dari atas tubuhnya.

Cepat-cepat Vani membersihkan diri di toilet dan bergegas menarik Shasha untuk masuk ke mobil Revo yang sedang dipanasi. "Gue belum mandi Van.. Lengket banget rasanya badan gue" rengek Shasha males-malesan. "Memek lo kan yang lengket" judes Vani. "Gue ga mau ketemu sama Ian & Boris lagi. Gempor gue digauli sama mereka bedua" tambah Vani. "Tapi lo suka kan hehehe" balas Shasha genit. Vani hanya memonyongkan bibirnya. "Kalo aja lo tau cowok lo juga ngentotin gue tadi pagi" batin Vani. Akhirnya, mobil itu meluncur membawa ketiga manusia muda ke jalanan ibu kota.

[END... Sampai bertemu di petualangan berikutnya ]

1 comment: