"Guys.. please. Gue ga akan sanggup handle lo bedua langsung" pinta Vani tidak berdaya sambil berusaha menutupi toket massive-nya dengan kedua tangannya dan merapatkan pahanya. "Sorry Van, gue jelas-jelas belum klimaks maen sama elo" ujar Boris mulai menaiki tempat tidur. "Dan lenguhan dan gaya ngentot lo udah bikin gue horny lagi. Jadi lo harus tanggung jawab" timpal Ian sambil mengocok pelan-pelan kontolnya dan mendekati Vani dari arah satunya. Vani beringsut mundur sampai menempel di tembok dan sadar dia tidak ada tempat buat lari. "Kalau lo melawan, malah lo akan kesakitan. Mending lo nikmatin aja kaya tadi Van" seringai Ian sambil meraih tangan Vani dan menyingkirkannya agar tidak menutupi toketnya lagi. Tangan Vani satunya masih berusaha menghalangi jemari Ian yang ingin meremas toketnya, tapi dengan mudah disingkirkan. Jari-jari Ian kembali dengan buasnya meremas-remas dan menguyel-nguyel melon putih Vani yang kenyal. Desahan lirih terdengar dari sela-sela bibir Vani yang sedikit terbuka. "Yah, gitu dong Van" puji Ian mesum sambil memilin-milin puting Vani yang tegang.
Sambil tetap meremas-remas toket Vani, Ian menundukkan kepalanya dan melumat bibir Vani. Vani yang akhirnya pasrah meraih kepala Ian agar lebih dekat lagi dan memudahkan aksi lumat-melumat bibir mereka. Tanpa disadari Vani, Boris sudah membuka paha Vani lebar-lebar dan mengarahkan rudalnya ke bibir memek Vani. Boris sedikit mengangkat pantat Vani, kemudian menghujamkan kontolnya dalam-dalam ke memek yang basah dan memerah itu. "Hmpph.." Vani agak tersedak karena sedikit kaget atas melesaknya kontol Boris. Tapi bibir Ian menahannya untuk mengerang.
Vani betul-betul sibuk dan kewalahan. Di bagian atas Ian dengan buas melahap bibirnya dan memainkan lidahnya dalam mulut Vani. Kedua bongkah toketnya tanpa henti digarap dan dirangsang habis oleh kedua tangan Ian. Tangan Vani yang mulus diminta mengocok kontol Ian. Di bagian bawah, memeknya basah kuyup dan gatal habis karena disodok-sodok oleh kontol Boris dengan RPM tinggi. Kali ini hanya butuh 3 menit untuk buat Vani meledak dalam orgasme lagi. Belum sempat mengatur nafas akibat orgasmenya yang terakhir, Ian sudah mengangkat dan membalikkan tubuh Vani. Vani menungging dan menghadap tepat ke kontol Ian yang duduk di depannya. Ian langsung memegang dan mengarahkan kepala Vani agar mulai menyepong kontolnya. "Aduh.. tebel banget. Muat ga ya mulu gue" batin Vani khawatir. Tapi, Vani tidak bisa berpikir panjang karena Ian sudah menekan kepala Vani sehingga mulut Vani langsung penuh oleh kontol Ian. Vani hampir tersedak, tapi Ian tetap menaik turunkan kepala Vani agar mulutnya mengocok kontol Ian. "Shhh..shhh.. enak mulut lo Van" desis Ian keenakan.
Boris kembali membenamkan kontolnya kedalam memek Vani dan mengentotnya dalam doggy style lagi. Kali ini Vani betul-betul susah dalam konsentrasi mengemut kontol Ian karena gempuran kontol Boris dari belakang betul-betul membuatnya mengawang-ngawang kenikmatan. Tapi Vani berusaha terus untuk bisa mengemut-ngemut, menyedot-nyedot kepala kontol Ian, dan sekali-sekali lidahnya memainkan lubang kontol Ian. Ian jadi belingsatan keenakan dan mendesah-desah keenakan "Ahhhh... shhhhhhhh.. mmmhhh... Gila jago banget lo Van.. ashhhhhhhh" ceracau Ian sambil menjambaki rambut pendek Vani.
Vani hampir keluar untuk kesekian kalinya ketika Ian meminta ganti posisi lagi. Vani berharap mereka cepat orgasme, karena dia tidak yakin bila dapat klimaks lagi dia masih bisa bertahan sadar. Kali ini Ian minta Vani WOT. Walau sudah lemas, Vani masih berusaha membuka pahanya lebar-lebar dan menduduki kontol Ian yang mengacung tegak. "Ouhhhhhhh...." Vani mengerang kenikmatan ketika kontol gemuk Ian menerobos celah lubang kawinnya. Rasanya betul-betul beda dari kontol Boris. Vani hampir saja keluar hanya dari tusukan pertama ini. Perlu beberapa detik agar Vani terbiasa lagi dengan perasaan mengganjal yang sangat penuh ini dan mulai bergerak naik turun mengocok kontol Ian.
"Yeah.. that's the way baby" ujar Ian menyemangati goyangan Vani di atasnya sambil meremas-remas toket Vani. Karena di atas, Vani dengan bebas menggerak-gerakkan pinggulnya agar kontol Ian menggesek bagian-bagian dinding memeknya yang paling nikmat. "Ahhhhh... ngahhhhh..ahhhh..." desah Vani sambil menggoyang maju mundur pantatnya. Dengan nakalnya jempol Ian menggesek-gesek klitoris Vani yang menonjol, membuat Vani semakin blingsatan. Tiba-tiba Boris memeluk Vani dari belakang dari langsung meremas toketnya. Leher Vani dicium, dan digigiti oleh Boris. Tangan Boris juga mulai meremas-remas pantat Vani. Dan sesekali membelai sun hole Vani. Membuat Vani menggelinjang karena perasaan nikmat yang aneh.
Tiba-tiba Vani merasa ada yang menerobos lubang pantatnya. "Auuuuhhh... Boris! Nakal banget sih lo" hardik Vani dangan nada birahi. Boris hanya nyengir sambil memasukkan lebih dalam jari tengahnya ke dalam pantat Vani dan mulai mengocoknya. Vani mengerang lebih heboh lagi dan menjatuhkan dirinya ke dada Ian. "Ahhh... ahhh... gillaa... Lo apain gue Borrr..." rengek Vani kebingungan. Cairan pelumas memek Vani yang membanjir sampai ke lubang pantatnya dan posisi nungging Vani memudahkan Boris mengocok pantat Vani.
Tiba-tiba Boris menghentikan kocokannya dan mengeluarkan jarinya dari lubang pantat Vani. Tapi beberapa saat kemudian Vani merasa ada cairan yang dituangkan ke pantatnya dan mengalir masuk ke lubang pantatnya. Vani langsung sadar apa niat Boris. "Borisss.. Gue ga mau dianal" rengek Vani berusaha membalik tubuhnya, tapi tertahan oleh pelukan Ian yang memaksa kontolnya masuk makin dalam ke memek Vani. "Ayolah Van, gue tahu lo sudah pernah dianal sama Albert" bujuk Boris sambil memegarkan pantat Vani lebar-lebar agar lubangnya menganga. Vani masih berusaha berontak ketika merasakan kepala kontol Boris mulai mendesak lubang pantatnya. "Ahhh.. Borisss.. please dongg" rengek Vani hampir menangis. Tapi Boris tidak peduli lagi. Sudah sejak lama dia pengen menganal pantat semok Vani. "Pasrah aja Van. Apa lo mau kontol gue yang nganal lo?" timpal Ian yang langsung membuat Vani diam. "Hmpphhh huuhh" gerung Boris sambil berusaha menghujamkan kontolnya di pantat Vani.
"Aaaahhhhhhhhh..... Pelan-pelannnnn...." pekik Vani agak kesakitan. Sudah agak lama sejak terakhir Vani dianal oleh Albert cowoknya. Untung saja kontol Boris lebih kecil daripada kontol Albert. Dengan tekanan kuat sekali lagi, kontol Boris langsung amblas ke dalam lubang pantat Vani. Blessshh! "Aiihhhhh... ahh.. ahhh.. " erang Vani lagi. Sambil merengkuh toket Vani lagi, Boris langsung menggenjot pantat Vani tanpa ampun. Erangan kesakitan Vani hanya bertahan sebentar saja. Begitu pantatnya terbiasa dengan kontol Boris, dan ditambah genjotan Boris membuat memeknya tergesek-gesek kontol gemuk Ian, Vani mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa. Rangsangan di pantatnya melipatgandakan rasa gatal birahi di memeknya. Vani mulai melenguh-lenguh dengan liarnya.
Vani dijepit ditengah dan digenjot seperti sandwich. Blingsatan Vani menggoyang-goyang pinggulanya merengkuh setiap kenikmatan yang dihasilkan setiap gesekan di lobang kawin dan lobang pantatnya. Betul-betul luar biasa. "Ouuuuhhh... ouhhhh.. ngahhhh... shhhhhhhhhhh.. lebih cepet.. lebih cepet..." lenguh Vani yang menuju klikmaksnya. Boris yang merasa gatal di kepala kontolnya makin menggila, memompa pantat Vani gila-gilaan. Tapi ternyata Ian yang duluan meledak orgasmenya. Sambil meremas pinggul Vani kuat-kuat, punggung Ian melengkung dan menghujamkan kontolnya dalam-dalam dan spermanya menyembur di dalam memek Vani. "GAAAHHHHHHH..... AAHHhhhh.... hahhh.. hahhhh.." lenguh Ian penuh kepuasan.
Disusul Vani beberapa saat kemudian. Vani merasakan gelombang orgasme yang pecah dari bibir-bibir memeknya dan ujung lubang pantatnya, membuat getaran ectassy kenikmatan menyebar keseluruh tubuhnya lagi. Membuat Vani kelonjotan dan tangannya blingsatan menarik-narik kain sprei. "OOoouuuuuughhhhh... Houuuhhhhhh... Yaahhhhh.. Yessssss...." teriak Vani penuh kebahagiaan birahi. Tapi ternyata Boris masih punya sedikit tenaga lagi dan terus menggenjot Vani yang sedang dilanda badai orgasme. Genjotan Boris yang tidak berhenti ketika Vani sedang klimaks, membuat Vani kembali dilanda orgasme berturut-turut. "Ahhhhhh.. kok... kok... gue kheluarrr lagiii... hahhhhh.." erang Vani. Kelonjotan beberapa saat, lalu Vani terjatuh lemas di dada Ian. Boris yang sudah nanggung, tetap memompa pantat Vani sampai dia merasa ada aliaran kenikmatan yang menjalar menuju kepala kontolnya. Ketika dia sudah tidak tahan lagi, Boris menekan dalam-dalam kontolnya ke pantat Vani dan meledakkan orgasmenya seperti orang histeris. "HOOAHHHHHHH.... HHAAAHhHHH....GIllllaaaaa" lenguh Boris penuh kepuasan.
Boris mencabut kontolnya dari pantat Vani, menyebabkan leleran spermanya mengalir keluar. Lalu Boris menghempaskan badannya di sebelahnya. Tidur dengan senyum menghiasi wajahnya. Vani dan Ian sudah jatuh tertidur lebih dahulu dengan badan lemas tapi puas.
Vani terbangun kaget. Melihat jam di dinding menunjukkan pukul 07.30. "Aduuhh.. paha gue kram rasanya ngangkang semaleman. Lobang pantat gue masih terasa agak aneh" runtuk Vani. Badannya terasa lemas. Tapi, senyum malu-malu tersungging di bibir Vani yang sensual mengingat pengalaman seks yang luar biasa semalam. "Kalo ga sama Ethan, ternyata gue butuh 2 cowok biar terbantai puas" batin Vani, yang kemudian disesalinya karena mengingat-ngingat Ethan lagi. Vani bangkit perlahan, agar tidak membangunkan Ian dan Boris yang masih mengorok dan keluar kamar menuju kamar mandi. Tapi, sebelumnya Vani membongkar-bongkar pakaian Boris dan mengutak-atik HP Boris sebentar.
Terpaan air dingin dari pancuran menyegarkan tubuh Vani. Vani juga menyemprot selangkangannya mengeluarkan sisa-sisa sperma Ian dari dalam memeknya. Ketika keluar dari kamar mandi, Vani sudah kembali segar dan merasa lapar. Berbalut jubah mandi yang ditemuinya di dalam kamar mandi, Vani melangkah ke dapur dan membongkar-bongkar isi kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya Vani membuat sandwich keju dengan fillet dada ayam.
Ketika menelah potongan terakhir sandwichnya, Vani mendengar langkah orang yang mendekat. Agak was-was berpikir Boris yang mendekat, tapi ternyata Revo yang memasuki dapur dengan hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada. "Hai Van. Lagi sarapan? Gue juga laper neh" sapa Revo ramah sambil membuka lemari bagian atas dan mengeluarkan selai kacang. Revo membuat sandwich selai kacang untuk dirinya sendiri. Lalu Revo menawarkan segelas susu kepada Vani yang diterimanya dengan ramah.
[Bersambung...]
No comments:
Post a Comment